Tampilkan postingan dengan label TEKNIK RADIOGRAFI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TEKNIK RADIOGRAFI. Tampilkan semua postingan
Rabu, 15 Januari 2014 - 1 komentar

TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOGRAFI BNO SONDE

APA ITU BNO SONDE??
BNO Sonde adalah pemeriksaan radiologi organ reproduksi wanita bagian dalam pada daerah corpus uterus,  dengan dibantu menggunakan alat yaitu sonde uterus. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui letak alat kontrasepsi pada reproduksi wanita, khususnya alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).

INDIKASI PEMERIKSAAN BNO SONDE
Indikasi untuk pemeriksaan ini biasanya adalah translokasi AKDR yaitu pindahnya AKDR dari tempat semula.
PERSIAPAN SEBELUM PEMERIKSAAN
 Sebelum pemeriksaan ini dilakukan sebaiknya pasien diminta untuk buang air kecil untuk mengosongkan vesica urinaria agar tidak mengganggu gambaran uterus.
ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN
  • Sonde Uterus 
  • Speculum Vagina
  • Desinfektan

 TEKNIK PEMERIKSAAN

Proyeksi Anteroposterior (AP) 

Tujuannya : Untuk plan foto dan setelah pemasukan sonde utrus
Kaset : Ukuran kaset yang digunakan adalah ukuran kaset 24×30 cm diletakkan melintang.

Posisi Pasien : Pasien tidur terlentang (supine) dalam posisi lithotomi diatas meja pemeriksaan.

Posisi Lithotomi

Posisi Objek :
Atur MSP tubuh pasien tegak lurus dengan meja pemeriksaan. Pastikan tidak ada rotasi pada pelvis agar posisi pelvis benar-benar true AP.

Central Ray : Atur arah sinar tegak lurus dengan kaset dan meja pemeriksaan.
Central Point : Titik bidik pada MSP setinggi 5 cm superior dari simpisis pubis.

Proyeksi Lateral

Tujuan : Untuk foto setelah pemasukan sonde utrus
Kaset : Ukuran kaset yang digunakan adalah ukuran kaset 24×30 cm diletakkan melintang.
Posisi Pasien : Atur pasien untuk tidur miring (recumbent) pada salah satu sisi.
Posisi Objek:
Atur MSP tubuh pasien sejajar dengan meja pemeriksaan. Pastikan posisi pelvis true Lateral. Tangan fleksikan ke atas untuk bantalan kepala agar pasien lebih nyaman.
Central Ray : Atur arah sinar tegak lurus dengan kaset dan meja pemeriksaan.
Central Point : Titik bidik pada MCP setinggi trochanter mayor sisi yang jauh dari kaset.

Kriteria Radiograf :

  • Terdapat gambaran spekulum di rongga Vagina
  • Terdapat gambaran sonde uterus dengan ujungnya menyentuh bagian dari AKDR
  • Dari gambaran itu dapat dilihat pergeseran lokasi AKDR dari tempat seharusnya

Senin, 13 Januari 2014 - , 2 komentar

BONE MINERAL DENSITOMETRY

PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
            Masalah usia lanjut dan osteoporosis semakin menjadi perhatian dunia, termasuk Indonesia. Hal ini dilatar belakangi oleh meningkatnya usia harapan hidup. Keadaan ini menyebabkan peningkatan penyakit menua yang menyertainya, antara lain osteoporosis (keropos tulang). Masalah osteoporosis di Indonesia dihubungkan dengan masalah hormonal pada menopause. Menopause lebih cepat dicapai wanita Indonesia pada usia 48 tahun dibandingkan wanita barat yaitu usia 60 tahun. Mulai berkurangnya paparan terhadap sinar matahari. Kurangnya asupan kalsium. Perubahan gaya hidup seperti merokok, alkohol dan berkurangnya latihan fisik. Penggunaan obat-obatan steroid jangka panjang. Serta risiko osteoporosis tanpa gejala klinis yang menyertainya.
            Sejak penurunan massa tulang dihubungkan dengan terjadinya fraktur yang akan datang, maka pemeriksaan massa tulang merupakan indikator untuk memperkirakan risiko terjadinya fraktur. Pada dekade terakhir, fakta ini menyebabkan kepedulian terhadap penggunaan alat diagnostik non invasif  (bone densitometry) untuk mengidentifikasi subyek dengan penurunan massa tulang, sehingga dapat mencegah terjadinya fraktur yang akan datang, bahkan dapat memonitoring terapi farmakologikal untuk menjaga massa tulang.
2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kekeroposan tulang (osteoporosis)?
2. Apa pengertian bone densitometer?
3. Apa saja jenis-jenis densitometer?
4. Bagaimana cara kerja dari Bone densitometer?
5. Apa indikasi penggunaan Bone densitometer?
3. Tujuan
1. Mengetahui pengertian osteoporosis
2. Mengetahui pengertian bone densitometer
3. Mengetahui jenis-jenis bone densitometer
4. Mengetahui cara kerja bone densitometer
5. Mengetahui indikasi penggunaan bone densitometer
PEMBAHASAN
Penggunaan zat-zat radioaktif merupakan bagian dari teknologi nuklir yang relatif cepat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hal ini disebabkan zat-zat radioaktif mempunyai sifat-sifat yang spesifik, yang tidak dimiliki oleh unusr-unsur lain. Dengan memanfaatkan sifat-sifat radioaktif tersebut, maka banyak persoalan yang rumit yang dapat disederhanakan sehingga penyelesaiannya menjadi lebih mudah. Radioaktif merupakan kumpulan beberapa tipe partikel subatom, biasanya disebut sinar gamma, neutron, elektron, dan partikel alpha. radioaktif itu bersifat melaju melalui celah/rongga ruang dengan kecepatan tinggi, yaitu sekitar 100,000 mili persekon.  Salah satu manfaat radiokimia dalam bidang kedokteran yaitu diagnosis kekeroposan tulang (osteoporosis) dengan bone densitometer. 
1. Definisi osteoporosis
  Osteoporosis adalah suatu keadaan yang ditandai dengan massa (berat) tulang yang rendah dankerusakan pada jaringan di dalam tulang. Pada Osteoporosis, terjadi penurunan kualitas tulang dankuantitas kepadatan tulang, padahal keduanya sangat menentukan kekuatan tulang sehinggapenderita Osteoporosis mudah mengalami patah tulang atau fraktur. 
Di Amerika serikat 44 juta orang mempunyai kepadatan tulang yang sangat rendah. Dari jumlah inihampir 55% berusia 55 tahun keatas. Lebih banyak perempuan daripada laki-laki, 1 dari 2 wanitakulit putih akan mengalami osteoporosis dalam hidupnya.

2.   Kegunaan Bone Densitometer
Alat Bone Densitometri digunakan untuk mengukur massa tulang terutama bagi mereka yang rentan terhadap fraktur (patah). Pemeriksaan ini bermanfaat dalam mengindentifikasi penurunan masa tulang seseorang sehingga meminimalkan resiko fraktur, mencegah terjadinya fraktur di masa yang akan datang dan dapat memonitor terapi untuk menjaga massa tulang.
Densitometer umumnya digunakan untuk mendiagnosis kepadatan tulang yang rawan keropos (osteoporosis) dengan mengukur kepadatan mineral tulang. Sistem kerja alat ini ada yang dapat mengukur lumbal, pangkal paha, lengan bawah ataupun tulang tumit saja. Densitometer dapat digunakan sebagai deteksi dini adanya patah tulang.

Bone Densitometry

Bonedensitometer atau juga disebut Dual Energy X-ray Absorptiometry (DEXA). Mesin ini memungkinkan pengukuran kepadatan tulang belakang, tulang paha dan pergelangan tangan, serta komposisi tubuh total (lemak). Pandangan lateral tulang belakang juga dapat diperoleh untuk deteksi fraktur. Bonedensitometer secara ilmiah terbukti sebagai metode terbaik untuk pengukuran kepadatan tulang.
Pemeriksaan energi ganda X-Ray Absorpitometry (DEXA)  memperkirakan jumlah konten mineral tulang di daerah tertentu dari tubuh. Pemeriksaan DEXA mengukur jumlah x-sinar yang diserap oleh tulang dalam tubuh Anda. Pemeriksaan memungkinkan ahli radiologi untuk membedakan antara tulang dan jaringan lunak, memberikan estimasi yang sangat akurat dari kepadatan tulang. Scan kepadatan tulang lebih cepat dan tidak memerlukan suntikan radionuklida serta bebas rasa sakit. Tes kepadatan tulang (DEXA) juga dapat digunakan untuk menentukan apakah obat tertentu yang meningkatkan kekuatan kepadatan tulang dari waktu ke waktu.
Pada seseorang yang mengalami patah tulang, diagnosis osteoporosis ditegakkan berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik dan rontgen tulang. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk menyingkirkan keadaan lainnya penyebab osteoporosis yang bisa diatasi.
3.   Macam-macam Densitometer
1. SPA (Single Photon Absorptiometry) untuk mengukur pergelangan tangan.
2.SXA (Singel Energy x-ray absorptiometry) untuk mengukur pergelangan tangan atau tumit.
3. Ultrasound untuk mengukur densitas tulang tumit, digunakan untuk skrining
4.QCT (Quantitative Computed Tomography) untuk mengukur belakang dan pinggang.
5. DEXA untuk mengukur tulang belakang, pinggul, atau seluruh tubuh.
6.PDXA (Peripheral Dual Energy x-ray Absorptiometry) untuk mengukur pergelangan tangan, tumit atau jari.
7. RA (Radiographic Absorptiometry) menggunakan sinar x pada tangan atau
sepotong metal kecil untuk menghitung kepadatan tulang.
8. DPA (Dual Photo Absorptiometry) untuk mengukur tulang belakang,
pinggang atau seluruh tubuh.
4.   Cara Kerja Bone Densitometer
Untuk mendiagnosa osteoporosis sebelum terjadinya patah tulang dilakukan pemeriksaan yang menilai kepadatan tulang. Di Indonesia dikenal 3 cara penegakan diagnosa penyakit osteoporosis, yaitu:
A. Densitometer (Lunar) menggunakan teknologi DXA (dual-energy x-ray absorptiometry). Pemeriksaan ini merupakan gold standard diagnosa osteoporosis. Pemeriksaan kepadatan tulang ini aman dan tidak menimbulkan nyeri serta bisa dilakukan dalam waktu 5-15 menit.
    DXA sangat berguna untuk:
o    wanita yang memiliki risiko tinggi menderita osteoporosis
o    penderita yang diagnosisnya belum pasti
o    penderita yang hasil pengobatan osteoporosisnya harus dinilai secara akurat
B. Densitometer-USG.
     Pemeriksaan ini lebih tepat disebut sebagai screening awal penyakit osteoporosis. Hasilnya pun hanya ditandai dengan nilai T dimana nilai lebih -1 berarti kepadatan tulang masih baik, nilai antara -1 dan -2,5 berarti osteopenia (penipisan tulang), nilai kurang dari -2,5 berarti osteoporosis (keropos tulang). Keuntungannya adalah kepraktisan dan harga pemeriksaannya yang lebih murah.
C. Pemeriksaan laboratorium untuk osteocalcin dan dioksipiridinolin, CTx. Proses pengeroposan tulang dapat diketahui dengan memeriksakan penanda biokimia CTx (C-Telopeptide). CTx merupakan hasil penguraian kolagen tulang yang dilepaskan ke dalam sirkulasi darahsehingga spesifik dalam menilai kecepatan proses pengeroposan tulang. Pemeriksaan CTx juga sangat berguna dalam memantau pengobatan menggunakan antiresorpsi oral. 
Proses pembentukan tulang dapat diketahui dengan memeriksakan penanda bioklimia N-MID-Osteocalcin. Osteocalcin merupakan protein spesifik tulang sehingga pemeriksan ini dapat digunakan saebagai penanda biokimia pembentukan tualng dan juga untuk menentukan kecepatan turnover tulang pada beberapa penyakit tulang lainnya. Pemeriksaan osteocalcin juga dapat digunakan untuk memantau pengobatan osteoporosis.
Di luar negeri, dokter dapat pula menggunakan metode lain untuk mendiagnosa penyakit osteoporosis, antara lain:
  1. Sinar x untuk menunjukkan degenerasi tipikal dalam tulang punggung bagian bawah.
  2. Pengukuran massa tulang dengan memeriksa lengan, paha dan tulang belakang.
  3. Tes darah yang dapat memperlihatkan naiknya kadar hormon paratiroid.
  4. Biopsi tulang untuk melihat tulang mengecil, keropos tetapi tampak normal
Dari berbagai metode pengukuran densitas tulang yang digunakan saat ini, metode yang berdasarkan x-ray (khususnya dual energy x-ray absorptiometry (DXA)) terbanyak digunakan.Teknik ini secara bertahap menggantikan teknik ionisasi lain yang menggunakan radiasi gamma.

Karekteristik terpenting yang menjadikan suatu alat ukur sebagai pilihan untuk menegakkan diagnosis adalah akurasi dari alat tersebut.
 
Hasil Pemeriksaan
Bone densitometri tulang mengukur padatnya tulang di daerah tubuh tertentu dan dapat mendeteksi osteoporosis sebelum terjadi patah tulang. Dengan kata lain, pemeriksaan ini membantu Anda memprediksi kemungkinan patah tulang pada masa depan dan menentukan tingkat BMD (Bone Mineral Density) saat Anda kehilangan tulang. Informasi ini dapat membantu dokter dalam mendiagnosis osteoporosis dan menyarankan Anda dalam pencegahan dan pengobatan yang sesuai untuk penyakit ini. Bonedensitometer menggunakan sejumlah kecil dari x-ray untuk menghasilkan gambar tulang belakang, pinggul, lengan, atau seluruh tubuh. X-ray adalah terdiri dari dua tingkat energi, yang diserap secara berbeda oleh tulang dalam tubuh.

Hasil tes

T skor - Angka ini menunjukkan jumlah tulang Anda dibandingkan dengan nilai orang dewasa muda lain dari gender yang sama dengan massa tulang puncak. Nilai T digunakan untuk memperkirakan risiko Anda mengembangkan fraktur.

·         Normal: T-score yang berada di atas-1 

·         Osteopenic: T-score adalah antara -1 dan -2,5 (kepadatan tulang yang rendah) 

·         Osteoporosis: T-skor di bawah -2,5

Z skor - Jumlah ini mencerminkan jumlah tulang Anda dibandingkan dengan orang lain dalam kelompok usia dan jenis kelamin yang sama. Jika skor ini luar biasa tinggi atau rendah, hal itu mungkin menunjukkan kebutuhan tes medis lebih lanjut.

         5. Keunggulan Bone Densitometer

Bone densitometri sendiri ditetapkan oleh WHO (World Helath Organization) sebagai Golden Standard dalam pemeriksaan massa tulang karena memiliki keunggulan antara lain:

Ø  akurasi dan presisi hasil yang lebih baik

Ø  resolusi hasil yang tinggi

Ø  waktu yang singkat
      Ø  paparan radiasi yang rendah
Sumber versi lengkap : 
http://blogbabeh.blogspot.com/2013/09/bmd-osteoporosis_2851.html 
Sabtu, 11 Januari 2014 - 0 komentar

TEKNIK PEMERIKSAAN PANORAMIC

SEJARAH PANORAMIC
      
   Pengertian panoramic radiografi ( E. Langland, 1982), panoramic berasal dari kata panorama yang artinya pemandangan yang luas dan indah, sedangkan panoramic dalam arti radiografi adalah teknik pemeriksaan untuk mendapatkan gambaran gigi geligi berikut mandibula dan maxilla.
Istilah panoramic ini dimulai di kenal tahun 1959 saat  S.S White Company di Amerika Utara memperkenalkan pesawat panorex/panoramic, yang mana sekarang di kenal dengan pesawat panoramic.

MEKANISME/SISTEM KERJA PESAWAT PANORAMIC

   Sistem kerja dari pesawat panoramic menurut Olaf E Langland (1982) :
  • prinsipnya adalah sama dengan tomogram, yang mana tube dan film selama eksposi berputar mengelilingi pasien.
  • Dengan tiga pusat sumbu rotasi, satu sumbu rotasi konsentris anterior (tepatnya disebelah insisivus pada regio-molar). Dan satu sumbu eksentris untuk bagian rahang samping (tepatnya dibelakang molar tiga). 
  • Untuk menghasilkan gambaran yang baik sewaktu film dan tube berputar , posisi kepala harus dalam keadaan fiksasi, waktu berputar tube dan film ini biasanya di set atau diatur oleh pabrik. 
  • Radiographer hanya menekan tombol timer yang ada, hingga perputaran film dan tube selama expose dapat menggambarkan keseluruhan gigi-geligi dari geraham paling kiri (molar tiga kiri) sampai gigi geraham paling kanan (molar tiga kanan). 
Peralatan yang digunakan :

  1. Pesawat.
Pesawat yang digunakan pada radiografi panoramic dan cepalometri umumnya telah dirangkai menjadi satu, radiographer hanya mengubah fungsi yang ada pada tabel pesawat dan jarak antara focus ke film (FFD).
  1. Kaset.
Kaset yang digunakan dalam pemeriksaan radiografi panoramic digunakan kaset kurva ukuran 15 x 30 cm dan menggunakan intensifier screen blue emitting dan green emitting.
  1. Film
      Film panoramic ukuran 6 x 12 inch ( 15 x 30 cm)

Prosedur penatalaksanaan pemeriksaan panoramic, menurut Richard C. O’Brien :

  • Masukan film kedalam kaset, lalu letakan kaset pada penyangga kaset. 
  • Temporal clampsk dutu digunakan untuk fiksasi kepala, sebelum pasien diintruksikan duduk,
    tentukan kV dan mA sesuai dengan keadaan pasien.
  • Intruksikan pasien untuk duduk, letakan dagu pada chin rest sehingga posisi kepala dari pasien menjadi simetris. Jika pertengahan kepala tidak tepat pada chin rest, maka gigi molar yang di hasilkan pada film tidak dalam ukuran yang tepat. Ketika pasien diposisikan dengan tepat sesuai intruksi, columna spinalis akan tergambar tepat dibelakang dari insisivus tengah. 
  • Jika gambaran yang di inginkan, terhindar dari overlapping dengan gigi geligi kain kasa diletakan antara insisivus pasien.
  • Kaset dan tube harus tepat segaris dengan arkus pasien. Untuk memenuhi hal tersebut, naikan atau turunkan kepala tube dengan menggunakan foot pedal dan hand switch sampai angka pada skala di chin rest sesuai dengan skala unit.
  • Jelaskan kepada pasien tentang jalanya pemeriksaan selama eksposi dilakukan, terutama :
          - Kaset dan tube akan mengelilingi pasien.
          - Eksposi akan berlangsung beberapa saat, instruksikan untuk diam.
  • Kriteria radiograf : Tampak seluruh gigi, mandibula, TMJ, fossa nasal, sinus maxilla, arcus zygomaticum,  maxilla, coronoid processus, condylus.