Senin, 13 Januari 2014 - , 2 komentar

BONE MINERAL DENSITOMETRY

PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
            Masalah usia lanjut dan osteoporosis semakin menjadi perhatian dunia, termasuk Indonesia. Hal ini dilatar belakangi oleh meningkatnya usia harapan hidup. Keadaan ini menyebabkan peningkatan penyakit menua yang menyertainya, antara lain osteoporosis (keropos tulang). Masalah osteoporosis di Indonesia dihubungkan dengan masalah hormonal pada menopause. Menopause lebih cepat dicapai wanita Indonesia pada usia 48 tahun dibandingkan wanita barat yaitu usia 60 tahun. Mulai berkurangnya paparan terhadap sinar matahari. Kurangnya asupan kalsium. Perubahan gaya hidup seperti merokok, alkohol dan berkurangnya latihan fisik. Penggunaan obat-obatan steroid jangka panjang. Serta risiko osteoporosis tanpa gejala klinis yang menyertainya.
            Sejak penurunan massa tulang dihubungkan dengan terjadinya fraktur yang akan datang, maka pemeriksaan massa tulang merupakan indikator untuk memperkirakan risiko terjadinya fraktur. Pada dekade terakhir, fakta ini menyebabkan kepedulian terhadap penggunaan alat diagnostik non invasif  (bone densitometry) untuk mengidentifikasi subyek dengan penurunan massa tulang, sehingga dapat mencegah terjadinya fraktur yang akan datang, bahkan dapat memonitoring terapi farmakologikal untuk menjaga massa tulang.
2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kekeroposan tulang (osteoporosis)?
2. Apa pengertian bone densitometer?
3. Apa saja jenis-jenis densitometer?
4. Bagaimana cara kerja dari Bone densitometer?
5. Apa indikasi penggunaan Bone densitometer?
3. Tujuan
1. Mengetahui pengertian osteoporosis
2. Mengetahui pengertian bone densitometer
3. Mengetahui jenis-jenis bone densitometer
4. Mengetahui cara kerja bone densitometer
5. Mengetahui indikasi penggunaan bone densitometer
PEMBAHASAN
Penggunaan zat-zat radioaktif merupakan bagian dari teknologi nuklir yang relatif cepat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hal ini disebabkan zat-zat radioaktif mempunyai sifat-sifat yang spesifik, yang tidak dimiliki oleh unusr-unsur lain. Dengan memanfaatkan sifat-sifat radioaktif tersebut, maka banyak persoalan yang rumit yang dapat disederhanakan sehingga penyelesaiannya menjadi lebih mudah. Radioaktif merupakan kumpulan beberapa tipe partikel subatom, biasanya disebut sinar gamma, neutron, elektron, dan partikel alpha. radioaktif itu bersifat melaju melalui celah/rongga ruang dengan kecepatan tinggi, yaitu sekitar 100,000 mili persekon.  Salah satu manfaat radiokimia dalam bidang kedokteran yaitu diagnosis kekeroposan tulang (osteoporosis) dengan bone densitometer. 
1. Definisi osteoporosis
  Osteoporosis adalah suatu keadaan yang ditandai dengan massa (berat) tulang yang rendah dankerusakan pada jaringan di dalam tulang. Pada Osteoporosis, terjadi penurunan kualitas tulang dankuantitas kepadatan tulang, padahal keduanya sangat menentukan kekuatan tulang sehinggapenderita Osteoporosis mudah mengalami patah tulang atau fraktur. 
Di Amerika serikat 44 juta orang mempunyai kepadatan tulang yang sangat rendah. Dari jumlah inihampir 55% berusia 55 tahun keatas. Lebih banyak perempuan daripada laki-laki, 1 dari 2 wanitakulit putih akan mengalami osteoporosis dalam hidupnya.

2.   Kegunaan Bone Densitometer
Alat Bone Densitometri digunakan untuk mengukur massa tulang terutama bagi mereka yang rentan terhadap fraktur (patah). Pemeriksaan ini bermanfaat dalam mengindentifikasi penurunan masa tulang seseorang sehingga meminimalkan resiko fraktur, mencegah terjadinya fraktur di masa yang akan datang dan dapat memonitor terapi untuk menjaga massa tulang.
Densitometer umumnya digunakan untuk mendiagnosis kepadatan tulang yang rawan keropos (osteoporosis) dengan mengukur kepadatan mineral tulang. Sistem kerja alat ini ada yang dapat mengukur lumbal, pangkal paha, lengan bawah ataupun tulang tumit saja. Densitometer dapat digunakan sebagai deteksi dini adanya patah tulang.

Bone Densitometry

Bonedensitometer atau juga disebut Dual Energy X-ray Absorptiometry (DEXA). Mesin ini memungkinkan pengukuran kepadatan tulang belakang, tulang paha dan pergelangan tangan, serta komposisi tubuh total (lemak). Pandangan lateral tulang belakang juga dapat diperoleh untuk deteksi fraktur. Bonedensitometer secara ilmiah terbukti sebagai metode terbaik untuk pengukuran kepadatan tulang.
Pemeriksaan energi ganda X-Ray Absorpitometry (DEXA)  memperkirakan jumlah konten mineral tulang di daerah tertentu dari tubuh. Pemeriksaan DEXA mengukur jumlah x-sinar yang diserap oleh tulang dalam tubuh Anda. Pemeriksaan memungkinkan ahli radiologi untuk membedakan antara tulang dan jaringan lunak, memberikan estimasi yang sangat akurat dari kepadatan tulang. Scan kepadatan tulang lebih cepat dan tidak memerlukan suntikan radionuklida serta bebas rasa sakit. Tes kepadatan tulang (DEXA) juga dapat digunakan untuk menentukan apakah obat tertentu yang meningkatkan kekuatan kepadatan tulang dari waktu ke waktu.
Pada seseorang yang mengalami patah tulang, diagnosis osteoporosis ditegakkan berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik dan rontgen tulang. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk menyingkirkan keadaan lainnya penyebab osteoporosis yang bisa diatasi.
3.   Macam-macam Densitometer
1. SPA (Single Photon Absorptiometry) untuk mengukur pergelangan tangan.
2.SXA (Singel Energy x-ray absorptiometry) untuk mengukur pergelangan tangan atau tumit.
3. Ultrasound untuk mengukur densitas tulang tumit, digunakan untuk skrining
4.QCT (Quantitative Computed Tomography) untuk mengukur belakang dan pinggang.
5. DEXA untuk mengukur tulang belakang, pinggul, atau seluruh tubuh.
6.PDXA (Peripheral Dual Energy x-ray Absorptiometry) untuk mengukur pergelangan tangan, tumit atau jari.
7. RA (Radiographic Absorptiometry) menggunakan sinar x pada tangan atau
sepotong metal kecil untuk menghitung kepadatan tulang.
8. DPA (Dual Photo Absorptiometry) untuk mengukur tulang belakang,
pinggang atau seluruh tubuh.
4.   Cara Kerja Bone Densitometer
Untuk mendiagnosa osteoporosis sebelum terjadinya patah tulang dilakukan pemeriksaan yang menilai kepadatan tulang. Di Indonesia dikenal 3 cara penegakan diagnosa penyakit osteoporosis, yaitu:
A. Densitometer (Lunar) menggunakan teknologi DXA (dual-energy x-ray absorptiometry). Pemeriksaan ini merupakan gold standard diagnosa osteoporosis. Pemeriksaan kepadatan tulang ini aman dan tidak menimbulkan nyeri serta bisa dilakukan dalam waktu 5-15 menit.
    DXA sangat berguna untuk:
o    wanita yang memiliki risiko tinggi menderita osteoporosis
o    penderita yang diagnosisnya belum pasti
o    penderita yang hasil pengobatan osteoporosisnya harus dinilai secara akurat
B. Densitometer-USG.
     Pemeriksaan ini lebih tepat disebut sebagai screening awal penyakit osteoporosis. Hasilnya pun hanya ditandai dengan nilai T dimana nilai lebih -1 berarti kepadatan tulang masih baik, nilai antara -1 dan -2,5 berarti osteopenia (penipisan tulang), nilai kurang dari -2,5 berarti osteoporosis (keropos tulang). Keuntungannya adalah kepraktisan dan harga pemeriksaannya yang lebih murah.
C. Pemeriksaan laboratorium untuk osteocalcin dan dioksipiridinolin, CTx. Proses pengeroposan tulang dapat diketahui dengan memeriksakan penanda biokimia CTx (C-Telopeptide). CTx merupakan hasil penguraian kolagen tulang yang dilepaskan ke dalam sirkulasi darahsehingga spesifik dalam menilai kecepatan proses pengeroposan tulang. Pemeriksaan CTx juga sangat berguna dalam memantau pengobatan menggunakan antiresorpsi oral. 
Proses pembentukan tulang dapat diketahui dengan memeriksakan penanda bioklimia N-MID-Osteocalcin. Osteocalcin merupakan protein spesifik tulang sehingga pemeriksan ini dapat digunakan saebagai penanda biokimia pembentukan tualng dan juga untuk menentukan kecepatan turnover tulang pada beberapa penyakit tulang lainnya. Pemeriksaan osteocalcin juga dapat digunakan untuk memantau pengobatan osteoporosis.
Di luar negeri, dokter dapat pula menggunakan metode lain untuk mendiagnosa penyakit osteoporosis, antara lain:
  1. Sinar x untuk menunjukkan degenerasi tipikal dalam tulang punggung bagian bawah.
  2. Pengukuran massa tulang dengan memeriksa lengan, paha dan tulang belakang.
  3. Tes darah yang dapat memperlihatkan naiknya kadar hormon paratiroid.
  4. Biopsi tulang untuk melihat tulang mengecil, keropos tetapi tampak normal
Dari berbagai metode pengukuran densitas tulang yang digunakan saat ini, metode yang berdasarkan x-ray (khususnya dual energy x-ray absorptiometry (DXA)) terbanyak digunakan.Teknik ini secara bertahap menggantikan teknik ionisasi lain yang menggunakan radiasi gamma.

Karekteristik terpenting yang menjadikan suatu alat ukur sebagai pilihan untuk menegakkan diagnosis adalah akurasi dari alat tersebut.
 
Hasil Pemeriksaan
Bone densitometri tulang mengukur padatnya tulang di daerah tubuh tertentu dan dapat mendeteksi osteoporosis sebelum terjadi patah tulang. Dengan kata lain, pemeriksaan ini membantu Anda memprediksi kemungkinan patah tulang pada masa depan dan menentukan tingkat BMD (Bone Mineral Density) saat Anda kehilangan tulang. Informasi ini dapat membantu dokter dalam mendiagnosis osteoporosis dan menyarankan Anda dalam pencegahan dan pengobatan yang sesuai untuk penyakit ini. Bonedensitometer menggunakan sejumlah kecil dari x-ray untuk menghasilkan gambar tulang belakang, pinggul, lengan, atau seluruh tubuh. X-ray adalah terdiri dari dua tingkat energi, yang diserap secara berbeda oleh tulang dalam tubuh.

Hasil tes

T skor - Angka ini menunjukkan jumlah tulang Anda dibandingkan dengan nilai orang dewasa muda lain dari gender yang sama dengan massa tulang puncak. Nilai T digunakan untuk memperkirakan risiko Anda mengembangkan fraktur.

·         Normal: T-score yang berada di atas-1 

·         Osteopenic: T-score adalah antara -1 dan -2,5 (kepadatan tulang yang rendah) 

·         Osteoporosis: T-skor di bawah -2,5

Z skor - Jumlah ini mencerminkan jumlah tulang Anda dibandingkan dengan orang lain dalam kelompok usia dan jenis kelamin yang sama. Jika skor ini luar biasa tinggi atau rendah, hal itu mungkin menunjukkan kebutuhan tes medis lebih lanjut.

         5. Keunggulan Bone Densitometer

Bone densitometri sendiri ditetapkan oleh WHO (World Helath Organization) sebagai Golden Standard dalam pemeriksaan massa tulang karena memiliki keunggulan antara lain:

Ø  akurasi dan presisi hasil yang lebih baik

Ø  resolusi hasil yang tinggi

Ø  waktu yang singkat
      Ø  paparan radiasi yang rendah
Sumber versi lengkap : 
http://blogbabeh.blogspot.com/2013/09/bmd-osteoporosis_2851.html 
- 0 komentar

INTERVENSIONAL RADIOLOGI

SEJARAH

Interventional Radiologi adalah suatu tindakan diagnostik ataupun terapi dengan menggunakan tuntunan alat imaging yang dikerjakan oleh Dokter Radiologi.

Bapak Intervensional:    Charles Dotter (guru besar radiologi rumah sakit univ OERON)
Berkembang pada tahun 1992, Dr Naobumi Yashiro dari universitas Tokyo yang memperkenalkan teknik embolisasi pada kasus hepatoma yang tidak dapat dioperasi.

                                                                        TEKNIK
Interventional radiology pada umumnya mempergunakan anastesi local dan metoda seldinger untk mencapai tujuan dan tindakan.

Secara praktis tekniknya sebagai berikut:
  1. Pasien terlentang di meja tindakan dilakukan antiseptis di daerah yang akan dipakai sebagai titik penusukan. 
  2. Dilakukan anastesi local di daerah tempat penusukan. 
  3. Dipergunakan jarum seldinger atau abocath untuk mengawali penusukan.
  4. Jarum dilepaskan dan dimasukkan baja penuntun atau buide wire di bawah tuntunan imaging.
  5. Dimasukkan kateter diagnostic dan dilakukan diagnostic. 
  6. Dilakukan tindakan
Dibagi atas 2 kelompok yaitu 
  1. Vaskular Interventional Radiologi 
  2. Non Vaskular Interventional Radiologi
Ad 1.
  1. Embolisasi pada kasus pendarahan saluran pencernaan bagian atas.
  2. Embolisasi pada kasus pendarahan saluran pencernaan bagian bawah.
  3. Embolisasi pada kasus arteriovenous malformation.
Ad2.         
  1. Tuntunan biopsy dengan USG ataupun dengan CT Scan. 
  2. Percutaneus transhepatle billiary drainage pada kasus obstruksi saluran empedu


Bahan Embolisasi terdiri dari
  1.  Bahan yang dapat diserap: autologus blood clot, gelfoam.
  2.  Bahan yang tidak dapat diserap.
 Keunggulan dari teknik Interkonventional Radiologi
  1. Minimal Invasive dibandingkan teknik bedah.
  2. Mengurangi lama perawatan di rumah sakit.
  3. Merupakan terapi pilihan pada kasus dengan indikasi kontra bedah
Indikasi kontra tindakan
  1. Alergi terhadap kontras media.
  2. Pasien dengan gangguan pembekuan darah.
Sebelum mengadakan tindakan Angiografi ini kita harus mempunyai
  1. Ruang khusus Angiografi
  2. Pesawat Khusus Angiografi : DSA, mesin puck, injector
  3. Selama tindakan dipantau dengan tekanan darah dan rekaman Jantung (EKG) 
Yang harus ada pada saat Angiografi
  1. Radiografer 
  2. Radiolog 
  3. Anastesi/Perawat
             
              
          
Minggu, 12 Januari 2014 - 0 komentar

PENGANTAR CITRA RADIOLOGI

A. DASAR-DASAR PENGANTAR CITRA RADIOLOGI

   Image dalam radiologi lebih kepada analisis logika, sistematis, ilmiah dan pengetahuan. Sedangkan Picture lebih kepada seni dan keindahan. 
   Muatan-muatan kurikulum yang diajarkan pada mahasiswa DIII lebih besar mengenai tentang Citra Radiologi Konvensional yang terdiri dari :
  1. X-Ray Konvensional
  2. Processing Konvemsional
  3. Media Konvensional
Ciri-ciri dari Citra Radiologi Konvensional :
  • Dikerjakan secara Manual --> tenaga yang digunakan merupakan tenaga manusia (seluruhnya dikerjakan manusia).  dan Elektrikal --> tenaga yang digunakan merupakan penggabungan dari tenaga manusia dan tenaga kelistrikan.
 Ciri-ciri dari Citra Rdaiologi Modern :
  • Dikerjakan secara Manual, Elektrikal, dan Elektronik.
ü  Yang dimaksud dengan Manual adalah tenaga yang digunakan merupakan tenaga manusia.
ü  Elektrik adalah tenaga yang digunakan merupakan penggabungan dari tenaga manusia dan 
    tenaga kelistrikan.
ü   Elektronik adalah listrik-listrik dengan rangkaian yang lebih halus.

Ciri-ciri dari Citra Radiologi Otomatis :
  • Seluruh kegiatan operasionalnya dilakukan secara Compurized.
                  ü Computerized --> seluruh kegiatan yang dilakukan merupakan proses yang telah 
                      lebih dahulu dalam suatu program komputer. 

B. IMAGE DATA RECEPTOR 

 Image data receptor merupakan penerima gambaran atau bayangan sementara dari gambaran radiologi. 
       Dalam bidang radiologi, kita mengenal 3 Image Data Receptor : 
  1. Tabir Flouroscopy 
    Pada Tabir Flouroscopy kita bisa melihat gambaran radiologi pada saat yang bersamaan dengan saat pengambilan gambar atau biasa disebut dengan Direct Imaging atau gambaran langsung.
  2. Image Intensifying
  3.   Digital Image Intensifying  : Pada Digital Data Intensifying, seperti namanya data yang akan diolah dan diubah menjadi  bentuk digital lebih dahulu atau biasa disebut Indirect Imaging atau gambaran tidak langsung.
 C. IMAGE DIMENSION (DIMENSI GAMBAR)



    Image Dimension terdiri dari :
     Dimensi Bentuk dan Ukuran

§  1 D : Gambaran yang ekspersinya hanya berupa gambar atau diagram dan garis. 
            Contoh : Echocardiography.
§  2 D : Gambaran dari 2 sudut pandang atau proyeksi. Contoh : Gambaran Radiografi.
§  3 D : Menggambarkan Volume dari suatu benda  dan juga dapat dilihat dari aspek isi benda 
            tersebut.
    Dimensi Waktu, yang dimaksud dengan Dimensi Waktu adalah menggambarkan kapan gambaran tersebut diambil. Dimensi Waktu terdiri dari :
§  Real Time : Langsung atau pada saat itu juga.
§  Time Motion : Ada kurun waktu tertentu.
    Dimensi Gerakan
§  Statik atau diam.
§  Dinamik atau gerak.
    Dimensi Warna
·         B/W ( Black and White ).
·         Colouring Image ( Gambaran Berwarna ).